tulisan ke 4 kesehatan mental

STRES

Arti Penting Stres

Pengertian Stres

Stress adalah bentuk ketegangan dari fisik, psikis, emosi maupun mental. Bentuk ketegangan ini mempengaruhi kinerja keseharian seseorang. Bahkan stress dapat membuat produktivitas menurun, rasa sakit dan gangguan-gangguan mental. Pada dasarnya, stress adalah sebuah bentuk ketegangan, baik fisik maupun mental. Sumber stress disebut dengan stressor dan ketegangan yang di akibatkan karena stress, disebut strain.

Efek-efek Stres

Berikut adalah 8 efek stres pada tubuh yang perlu dipahami, seperti dikutip dari magforwomen.com :

Keringat Berlebihan

Stres dapat membuat seseorang berkeringat, bisa terjadi karena gugup, panik atau di bawah tekanan. Hal ini dapat membuat denyut jantung lebih cepat.

Sulit Membuat Keputusan

Bimbang dalam mengambil keputusan, sulit berkonsentrasi dan timbulnya rasa frustasi. Hal ini dapat menggangu kesehatan mental seseorang.

Perubahan Suasana Hati dan Serangan Panik

Orang yang menderita stres membuat suasana hatinya kacau. Terkadang bisa mengganggu orang disekitarnya. Selain itu disertai juga dengan serangan panik.

Nyeri Otot

Saat stres, otot-otot tubuh menjadi kaku. Akibatnya menyebabkan nyeri otot dan kejang. Untuk mengatasi ini, Anda perlu berolahraga.

Mudah Marah dan Hilang Percaya Diri

Orang stres sering berteriak karena beban pikiran. Hal ini menyebabkan rasa marah dan juga frustasi. Jika sering terjadi, dapat menghilangkan rasa percaya diri.

Kelelahan

Dampak stres terlihat di wajah, wajah terlihat pucat dan tidak bersemangat. Seseorang yang menderita stres berlebihan membuat merasal lesu dan lemah. Terkadang juga mengakibatkan pusing.

Perubahan Kulit

Saat stres, terjadi lonjakan hormon adrenalin yang menyebabkan jerawat, seperti di wajah. Hal ini juga menghambat produksi kolagen tubuh, yang akhirnya membuat kulit keriput.

Rambut Rontok

Banyak wanita atau pria yang mengalami rambut rontok bahkan mengakibatkkan kebotakan akibat stres yang berlebihan. Disarankan agar melatih diri mengadapi stres seperti teknik relaksasi atau dengan olahraga.

General Adaptation Syndrom – Hans Selye

Ilmuwan Hans Selye (1907-1982) memperkenalkan model Sindrom Adaptasi Umum pada tahun 1936 menunjukkan dalam tiga tahap apa dugaan efek stres memiliki pada tubuh.

Dalam karyanya, Selye – ‘bapak penelitian stres,’ mengembangkan teori bahwa stres adalah penyebab utama dari penyakit karena stres kronis menyebabkan perubahan kimia dalam jangka panjang.

Dia mengamati bahwa tubuh akan merespon setiap sumber biologis eksternal stres dengan pola biologis diprediksi dalam upaya untuk memulihkan homeostasis internal tubuh.

Reaksi hormonal awal adalah melawan atau respon penerbangan stres – dan tujuannya adalah untuk menangani stres sangat cepat! Proses perjuangan tubuh untuk menjaga keseimbangan adalah apa yang disebut Selye, General Adaptasi Syndrome.

Tekanan, ketegangan, dan stressor lainnya dapat sangat mempengaruhi metabolisme normal Anda. Selye ditentukan bahwa ada pasokan energi yang terbatas adaptif untuk mengatasi stres. Jumlah itu menurun seiring dengan paparan terus-menerus.

“Setiap stres meninggalkan bekas luka yang tak terhapuskan, dan organisme membayar untuk kelangsungan hidupnya setelah situasi stres dengan menjadi sedikit lebih tua.”

~ Hans Selye

Akan melalui serangkaian langkah, tubuh Anda secara konsisten bekerja untuk mendapatkan kembali stabilitas. Dengan sindrom adaptasi umum, respon adaptif manusia terhadap stress memiliki tiga tahap yang berbeda:

ALARM

Reaksi pertama Anda untuk menekankan mengakui ada bahaya dan mempersiapkan untuk menghadapi ancaman, alias melawan atau respon penerbangan. Aktivasi dari sumbu HPA, sistem saraf (SNS) dan kelenjar adrenal terjadi.

Selama fase ini hormon stres kortisol utama, adrenalin, dan noradrenalin, dilepaskan untuk menyediakan energi instan.

Jika energi ini tidak digunakan berulang kali oleh aktivitas fisik, dapat menjadi berbahaya.

Terlalu banyak hasil adrenalin dalam lonjakan tekanan darah yang dapat merusak pembuluh darah jantung dan otak – faktor risiko serangan jantung dan stroke.

Kelebihan produksi hormon kortisol dapat menyebabkan kerusakan pada sel dan jaringan otot. Gangguan terkait stres dan penyakit dari kortisol termasuk kondisi kardiovaskular, stroke, ulkus lambung, dan kadar gula darah tinggi.

Pada tahap ini semuanya bekerja sebagaimana mestinya – Anda memiliki acara stres, tubuh Anda alarm Anda dengan sentakan tiba-tiba perubahan hormonal, dan Anda sekarang segera dilengkapi dengan energi yang cukup untuk menanganinya.

TAHANAN

Tubuh bergeser ke fase kedua ini dengan sumber stres yang mungkin diselesaikan. Homeostasis mulai memulihkan keseimbangan dan periode pemulihan untuk perbaikan dan pembaharuan berlangsung.

Kadar hormon stres dapat kembali normal tetapi Anda mungkin telah mengurangi pertahanan dan meninggalkan energi adaptif.

Jika kondisi stres berlanjut, tubuh Anda beradaptasi dengan upaya lanjutan dalam perlawanan dan tetap dalam keadaan terangsang.

Masalah mulai terwujud ketika Anda menemukan diri Anda mengulangi proses ini terlalu sering dengan sedikit atau tanpa pemulihan. Akhirnya ini bergerak Anda ke tahap akhir.

KELELAHAN

Pada tahap ini, stres telah berlangsung selama beberapa waktu. Kemampuan tubuh Anda untuk melawan hilang karena pasokan energi adaptasi hilang. Sering disebut sebagai overload, kelelahan, kelelahan adrenal, maladaptation atau disfungsi – Di sinilah tingkat stres naik dan tetap up!

Proses adaptasi selesai dan tidak mengherankan, tahap ini sindrom adaptasi umum adalah yang paling berbahaya untuk kesehatan Anda.

Stres kronis dapat merusak sel-sel saraf pada jaringan dan organ. Terutama rentan adalah bagian hippocampus otak. Berpikir dan memori cenderung menjadi terganggu, dengan kecenderungan kecemasan dan depresi.

Ada juga dapat merugikan fungsi dari sistem saraf otonom yang memberikan kontribusi untuk tekanan darah tinggi, penyakit jantung, rheumatoid arthritis, dan penyakit terkait stres lainnya.

Tahapan progresif sindrom adaptasi umum jelas menunjukkan di mana memiliki stres yang berlebihan dapat menyebabkan. Diberi pilihan, mengapa ada orang yang sengaja memilih jalan ini? Anda mungkin ingin memeriksa beberapa teknik relaksasi atau mungkin strategi menghilangkan stres herbal untuk membantu membawa ini di bawah kontrol.

Sumber stres banyak dengan gaya hidup kita sibuk, tapi untungnya hanya ada banyak cara untuk meredakan stres dan masih menjaga dan terus berjalan.

Faktor inividual dan sosial- penyebab stres

Faktor lingkungan
Selain memengaruhi desain struktur sebuah organisasi, ketidakpastian lingkungan juga memengaruhi tingkat stres para karyawan dan organisasi. Perubahan dalam siklus bisnis menciptakan ketidakpastian ekonomi, misalnya, ketika kelangsungan pekerjaan terancam maka seseorang mulai khawatir ekonomi akan memburuk.
Faktor organisasi
Banyak faktor di dalam organisasi yang dapat menyebabkan stres. Tekanan untuk menghindari kesalahaan atau menyelesaikan tugas dalam waktu yang mepet, beban kerja yang berlebihan, atasan yang selalu menuntut dan tidak peka, dan rekan kerja yang tidak menyenangkan adalah beberapa di antaranya. Hal ini dapat mengelompokkan faktor-faktor ini menjadi tuntutan tugas, peran, dan antarpribadi.
Tuntutan tugas adalah faktor yang terkait dengan pekerjaan seseorang. Tuntutan tersebut meliputi desain pekerjaan individual, kondisi kerja, dan tata letak fisik pekerjaan. Sebagai contoh, bekerja di ruangan yang terlalu sesak atau di lokasi yang selalu terganggu oleh suara bising dapat meningkatkan kecemasan dan stres. Dengan semakin pentingnya layanan pelanggan, pekerjaan yang menuntut faktor emosional bisa menjadi sumber stres.
Tuntutan peran berkaitan dengan tekanan yang diberikan kepada seseorang sebagai fungsi dari peran tertentu yang dimainkannya dalam organisasi. Konflik peran menciptakan ekspektasi yang mungkin sulit untuk diselesaikan atau dipenuhi.
Tuntutan antarpribadi adalah tekanan yang diciptakan oleh karyawan. Tidak adanya dukungan dari kolega dan hubungan antarpribadi yang buruk dapat meyebabkan stres, terutama di antara para karyawan yang memiliki kebutuhan sosial yang tinggi.
Faktor pribadi
Faktor-faktor pribadi terdiri dari masalah keluarga, masalah ekonomi pribadi, serta kepribadian dan karakter yang melekat dalam diri seseorang.
Survei nasional secara konsisten menunjukkan bahwa orang sangat mementingkan hubungan keluarga dan pribadi. berbagai kesulitan dalam hidup perkawinan, retaknya hubungan, dan kesulitan masalah disiplin dengan anak-anak adalah beberapa contoh masalah hubungan yang menciptakan stres.
Masalah ekonomi karena pola hidup yang lebih besar pasak daripada tiang adalah kendala pribadi lain yang menciptakan stres bagi karyawan dan mengganggu konsentrasi kerja karyawan. Studi terhadap tiga organisasi yang berbeda menunjukkan bahwa gejala-gejala stres yang dilaporkan sebelum memulai pekerjaan sebagian besar merupakan varians dari berbagai gejala stres yang dilaporkan sembilan bulan kemudian. Hal ini membawa para peneliti pada kesimpulan bahwa sebagian orang memiliki kecenderungan kecenderungan inheren untuk mengaksentuasi aspek-aspek negatif dunia secara umum. Jika kesimpulan ini benar, faktor individual yang secara signifikan memengaruhi stres adalah sifat dasar seseorang. Artinya, gejala stres yang diekspresikan pada pekerjaan bisa jadi sebenarnya berasal dari kepribadian orang itu.
Tipe Stres Psikologis
a.    Tekanan
Menurut Calvin S. Hall dan Gardner Lindzey, tekanan adalah suatu sifat atau atributif dari suatu objek lingkungan atau orang yang memudahkan atau menghalangi usaha-usaha individu untuk mencapai tujuan tertentu. Contohnya, Ani adalah anak yang aktif baik dalam bidang akademik maupun sosial, Ani memiliki cita-cita sebagai sosialita, sehingga ia berkehendak untuk mengikuti segala kegiatan, tetapi orang tuanya menentang sebab orang tuanya takut kalau nanti Ani terseret dalam pergaulan bebas. Dan karena tujuan yang ia rintis tidak dapat terlaksana Ani justru menjadi sangat tertekan sehingga ia memilih memisahkan diri “pendiam”.
b.    Frustasi
Menurut Siswanto, frustasi terjadi bila antara harapan yang diinginkan dan kenyataan yang terjadi tidak sesuai.
Menurut Atkinson, dkk, frustasi terjadi bila gerak arah tujuan yang diinginkan terhambat atau tertunda. Contohnya adalah Dewa adalah seorang mahasiswa yang berambisius untuk mendapatkan nilai IPK tertinggi diantara teman-temannya, tetapi ketika nilai sudah keluar Dewa tidak mendapatkan nilai IPK yang ia inginkan, sehingga ia frustasi dan memaki dirinya sendiri serta menghukum dirinya.
c.    Konflik
Sumber utama frustasi adalah konflik antara dua motif bertentangan (dalam, Pengantar Psikologi, Atkinson dkk.,1983). Misalnya: Seseorang yang baru saja menyelesaikan sekolahnya ditingkat Menengah Atas, kemudian ia dihadapkan oleh dua pilihan yaitu ia ingin menjadi mahasiswa di Universitas diluar negeri,  padahal anak tersebut adalah salah satu anak yang termasuk unggul dalam bidang akademiknya, tetapi orang tuanya tidak mengijinkan justru orang tuanya menyarankan anak tersebut melanjutkan kuliahnya di Universitas tempat Pamannya bekerja sebagai dosen, sehingga menimbulkan konflik bagi si anak tersebut, baik konflik internal (dengan dirinya) maupun eksternal (dengan lingkungan sekitarnya, seperti  keluarga).
d.   Kecemasan
Yang dimaksud dengan kecemasan adalah emosi yang tidak menyenangkan yang ditandai dengan istilah-istilah seperti “Kekhawatiran”, “Keprihatinan”, dan “Rasa Takut” yang kadang-kadang kita alami pada tingkatan yang berbeda-beda (dalam,Pengantar Psikologi, Atkinson dkk.,1983).
Orang yang mengalami gangguan kecemasan dilanda ketidakmampuan menghadapi perasaan cemas yang kronis dan intens, perasaan tersebut sangat kuat sehingga mereka tidak mampu berfungsi dalam kehidupan sehari-hari (dalam Psikologi Abnormal: Perspektif Klinisi pada Gangguan Psikologis, Richard P.Halgin dan Susan Krauss, 2010). Contohnya adalah seorang wanita yang berjalan sendirian pada malam hari di tempat yang sepi, dengan cahaya yang remang-remang secara otomatis ia akan merasa takut yang luar biasa bahkan mungkin tingkat kecemasannya menjadi tinggi, karena ia berfikir (biasanya) di malam hari, di temapat yang sepi dapat dijumpai hantu, penjahat dll. Karena fikirannya yang berhalusinasi maka ia akan merasa sangat ketakutan.

Symptom-reducing response terhadap stres

Lazarus membagi koping menjadi dua jenis, yaitu (dalam Kesehatan Mental: Konsep, Cangkupan, dan Perkembangannya, 2007):
1. Tindakan Langsung (Direct Action)
Yaitu setiap usaha tingkah laku yan dijalankan oleh individu untuk mengatasi kesakitan atau luka, ancaman atau tantangan dengan cara mengubah hubungan yang bermasalah dengan lingkungan. Hal ini terfokuskan terhadap masalah artinya seseorang ketika menghadapi konflik-stres agar dapat mencari tahu sebab-musabab mengapa ia menjadi stres dan apa yang ia rasakan kemudian ia hubungkan terhadap lingkungan, bagaimana efeknya untuk lingkungan, jika yang terjadi adalah menjadi semakin kompleks, maka kita harus mengubah pandangan stres kita dengan melakukan pengalihan, contohnya setelah ditinggalkan oleh pacarnya Mitha merasa kecewa dan sedih sehingga mempengaruhi moodnya terhadap lingkungannya, karena moodnya sedang buruk ia terlihat lebih sensitif lalu orang-orang menjauhinya (tidak ingin membuat Mitha semakin marah), karena ketidak stabilan moodnya yang merugikan dirinya, maka Mitha bangkit dari rasa sedihnya, da Mitha kembali ceria seperti sedia kala.
2. Peredaran atau Peringanan (Palliation)

Jenis koping ini mengacu pada mengurangi atau menghilangkan atau menoleransi tekanan-tekanan kebutuhan atau fisik, motorik atau gambaran afeksi dari tekanan emosi yan dibangkitkan oleh lingkungan yang bermasalah. Pada jenis koping ini bertitik fokus pada emosi yang ditimbulkan dari lingkunga. Contohnya, dahulu ketika Mia bersekolah Mia selalu masuk dalam sekolah negeri dan ketika ia berkuliah Mia tidak dapat masuk dalam peruruan tinggi negeri sehingga ia melanjutkan ke perguruan tinggi swasta, akhirnya Mia menjadi sedih, dan sangat kecewa, akhirnya untuk menghilangkan rasa kecewanya Mia berusaha menerima kenyataannya kemudian demi menenangkan dirinya sendiri Mia selalu (terkadang) berkhayal bahwa Mia sedan berkuliah di perguruan tinggi negeri.

Mekanisme Pertahanan Diri

Dalam aliran psikoanalisis dari Sigmund Freud, mekanisme pertahanan ego/diri pada manusia merupakan sebuah senjata tersembunyi yang dimiliki, dan siap digunakan jika ego/diri terasa terancam. Menurut teori psikoanalisa mekanisme pertahanan diri membantu individu mengatasi kecemasan dan mencegah terlukanya ego. Mekanisme pertahanan diri ini tidak selalu negatif dan patologis tetapi bisa sebagai cara satu cara penyesuaian diri untuk menghadapi suatu kenyataan.
Mekanisme-mekanisme pertahanan ini digunakan oleh individu tergantung pada taraf perkembangan dan derajat kecemasan yang dialaminya. Mekanisme-mekanisme pertahanan memiliki dua ciri yaitu “menyangkal atau mendistorsi dan beroperasi pada taraf ketidaksadaran manusia”.
Dibawah ini contoh-contoh mekanisme pertahanan diri (defend mechanism) yang biasa dilakukan individu:
Penyangkalan
Penyangkalan adalah pertahanan melawan kecemasan “menutup mata (pura-pura tidak melihat)” terhadap sebuah kenyataan yang mengancam. Individu menolak sejumlah aspek kenyataa yang membangkitkan kecemasan.
Kecemasan atas kematian orang yang dicintai misalnya, dimanifestasikan oleh penyangkalan terhadap fakta kematian. Dalam peristiwa-peristiwa trags seperti perang atau bencana-bencana lainnya, orang-orang sering melakukan penyangkalan terhadap kenyataan-kenyataan yang menyakitkan untuk diterima.
Proyeksi
Proyeksi adalah mengalamatkan peristiwa-peristiwa tertentu yang tidak bisa diterima oleh ego kepada orang lain. Seseorang melihat pada diri orang lain hal-hal yang tidak disukai dan ia tidak bisa menerima adanya hal-hal itu pada diri sendiri. Jadi, dengan proyeksi, seseorang akan mengutuk orang lain karena kejahatannya dan menyangkal memiliki dorongan jahat seperti itu. Untuk menghindari kesakitan karena mengakui bahwa di dalam dirinya terdapat dorongan yang dianggapnya jahat, ia memisahkan diri dari kenyataan ini.
Fiksasi
Fiksasi maksudnya adalah terpaku pada tahap-tahap perkembangan yang lebih awal karena mengambil langkah ketahap selanjutnya bisa menimbulkan kecemasan. Anak yang terlalu bergantung menunjukkan pertahanan berupa fiksasi, untuk menghadapi kecemasan anak, hal ini dapat menghambat anak dalam belajar mandiri.
Regresi
Regresi adalah melangkah mundur ke fase perkembangan lebih awal yang tuntutan-tuntutannya tidak terlalu besar. Contohnya, seorang anak yang takut sekolah memperlihatkan tingkah laku infantile seperti menangis, mengisap ibu jari, bersembunyi dan menggantungkan diri pada guru.
Rasionalisasi
Rasionalisasi adalah menciptakan alasan-alasan yang “baik/benar” guna menghindari ego yang terluka; memalsukan diri sehingga kenyataan yang mengecewakan menjadi tidak begitu menyakitkan. Orang yang tidak memperoleh kedudukan mengemukakan alasan, mengapa dia begitu senang tidak memperoleh kedudukan sesungguhnya yang diinginkannya. Atau seorang pemuda yang ditinggalkan kekasihnya, guna menyembuhkan egonya yang terluka ia menghibur diri bahwa sigadis tidak berharga dan bahwa dirinya memang akan menendangnya.
Sublimasi
Sublimasi adalah menggunakan jalan keluar yang lebih tinggi atau yang secara sosial lebih dapat diterima bagi dorongan-dorongannya. Contohnya, dorongan agresif yang ada pada seseorang disalurkan kedalam aktivitas bersaing di bidang olahraga sehingga dia menemukan jalan bagi pengungkapan jalan agresifnya, dan sebagai tambahan dia bisa memperoleh imbalan apabila berprestasi dibidang olahraga itu.
Displacement
Displacement adalah mengarahkan energy kepada objek atau orang lain apabila objek asal atau orang yang sesungguhnya, tidak bisa dijangkau. Seorang anak yang ingin menendang orangtuanya dialihkan kepada adiknya dengan menendangnya atau membanting pintu.
Represi
Represi adalah melupakan isi kesadaran yang traumatis atau yang bisa membangkitkan kecemasan; mendorong kenyataan yang tidak diterima kepada ketidaksadaran, atau menjadi tidak menyadari hal-hal yang menyakitkan. Represi merupakan salah satu konsep Freud yang paling penting, yang menjadi basis bagi banyak pertahanan ego lainnya dan bagi gangguan-gangguan neurotic.
Formasi reaksi
Formasi reaksi adalah melakukan tindakan yang berlawanan dengan hasrat-hasrat tak sadar; jika perasaan-perasaan yang lebih dalam menimbulkan ancaman, maka seseorang menampilkan tingkah laku yang berlawanan guna menyangkal perasaan-perasaan yang bisa menimbulkan ancaman itu. Contohnya seorang ibu yang memiliki perasaan menolak terhadap anaknya, karena adanya perasaan berdosa, ia menampilkan perasaan yang berlawanan yakni terlalu melindunginya atau “terlalu mencintainya”. Orang yang menunjukkan sikap yang menyenangkan yang berlebihan atau terlalu baik boleh jadi berusaha menutupi kebencian dan perasaan-perasaan negatifnya.
Strategi Coping untuk Mengatasi Stres

Coping Sebagai Salah Satu Cara Mengurangi Stress adalah artikel lanjutan dari artikel sebelumnya tentang pengertian stress. Coping Sebagai Salah Satu Cara Mengurangi Stress diharapkan bisa memberikan sedikit pemahaman treatment seperti apa yang bisa mengurangi stress.

Strategi coping menunjuk pada berbagai upaya, baik mental maupun perilaku,  untuk menguasai, mentoleransi, mengurangi, atau minimalisasikan suatu situasi atau kejadian yang penuh tekanan. Dengan perkataan lain  strategi coping merupakan suatu proses dimana individu berusaha untuk menanggani dan menguasai  situasi stres yang menekan akibat dari masalah yang sedang dihadapinya dengan cara melakukan perubahan kognitif maupun perilaku  guna memperoleh rasa aman dalam dirinya.

Para ahli menggolongkan dua strategi coping yang biasanya digunakan oleh individu, yaitu: problem-solving focused coping, dimana individu secara aktif mencari penyelesaian dari masalah untuk menghilangkan kondisi atau situasi yang menimbulkan stres; dan emotion-focused coping, dimana individu melibatkan usaha-usaha untuk mengatur emosinya dalam rangka menyesuaikan diri dengan dampak yang akan ditimbulkan oleh suatu kondisi atau situasi yang penuh tekanan.  Hasil penelitian membuktikan bahwa individu menggunakan kedua cara tersebut untuk mengatasi berbagai masalah yang menekan dalam berbagai ruang lingkup kehidupan sehari-hari. Faktor yang menentukan strategi mana yang paling banyak atau sering digunakan sangat tergantung pada kepribadian seseorang dan sejauhmana tingkat stres dari suatu kondisi atau masalah yang dialaminya. Contoh: seseorang cenderung menggunakan problem-solving focused coping dalam menghadapai masalah-masalah yang menurutnya bisa dikontrol seperti masalah yang berhubungan dengan sekolah atau pekerjaan; sebaliknya ia akan cenderung menggunakan strategi emotion-focused coping ketika dihadapkan pada masalah-masalah yang menurutnya sulit dikontrol seperti masalah-masalah yang berhubungan dengan penyakit yang tergolong berat seperti kanker atau Aids.

Hampir senada dengan penggolongan jenis coping seperti dikemukakan di atas, dalam literatur tentang coping juga dikenal dua strategi coping ,yaitu  active & avoidant coping strategi (Lazarus mengkategorikan menjadi Direct Action & Palliative). Active coping merupakan strategi yang dirancang untuk mengubah cara pandang individu terhadap sumber stres, sementara avoidant coping merupakan strategi yang dilakukan individu untuk menjauhkan diri dari sumber stres dengan cara melakukan suatu aktivitas atau menarik diri dari suatu kegiatan atau situasi yang berpotensi menimbulkan stress.   Apa yang dilakukan individu pada avoidant coping strategi sebenarnya merupakan suatu bentuk mekanisme pertahanan diri yang  sebenarnya dapat menimbulkan dampak negatif bagi individu karena cepat atau lambat permasalahan yang ada haruslah diselesaikan oleh yang bersangkutan. Permasalahan akan semakin menjadi lebih rumit jika mekanisme pertahanan diri tersebut justru menuntut kebutuhan energi dan menambah kepekaan terhadap ancaman.

Berdasarkan pengertian coping diatas, tahajud dapat digolongkan sebagai emotion-focused coping, karena dengan tahajud dijadikan usaha untuk mengatur emosinya dalam rangka menyesuaikan diri dengan dampak yang akan ditimbulkan oleh suatu kondisi atau situasi yang penuh tekanan (stress). Tapi, tahajud juga dapat digolongkan sebagai problem-solving focused coping, apabila dalam tahajud tersebut individu mencari atau memikirkan penyelesaian dari masalah untuk menghilangkan kondisi atau situasi yang menimbulkan stres.

sumber: http://www.psychologymania.com/2012/05/pengertian-stress.html

http://www.tipspengetahuan.com/8-efek-stres-pada-tubuh-kesehatan-322.html

http://www.essenceofstressrelief.com/general-adaptation-syndrome.html

http://lnovita.blogspot.com/2013/04/tulisan-4.html

http://id.wikipedia.org/wiki/Stres

http://www.psychologymania.com/2012/02/mekanisme-mekanisme-pertahanan-diriego.html

http://www.te2n.com/coping-sebagai-salah-satu-cara-mengurangi-stress

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s